Aku ingat ketika masa SMA dulu, temanku mengomentari perihal peribahasa dengan lucu. Diam itu emas. Peribahasa itu berarti diam itu jauh lebih baik daripada banyak bicara yang bisa mencelakakan. Namun temanku itu mengartikannya berbeda. Katanya diam itu emas karena memiliki gigi emas. Itu berarti gigi palsu. Kami tertawa geli mendengar komentarnya itu. Tapi ... Kita kembali pada makna yang sebenarnya, diam itu memang benar lebih selamat daripada (banyak) bicara yang bisa mencelakaan diri sendiri. Ini kualami baru saja. Aku berada di kondisi tidak benar-benar sehat. Terasa sekali tekanan darah sedang di level tidak normal sehingga aku menolak membahas suatu perkara saat itu. Namun ternyata kondisi tersebut tidak dipahami dengan baik. Ya, salah paham. Yang bersangkutan malah marah karena menilai aku tak mengerti kondisinya. Salah paham yang diperkuat dengan emosi. Jadilah emosi yang tidak semestinya hadir. Aku mengalah. Aku diam dan memilih menyingkir. Entah ...