Langsung ke konten utama

Postingan

Berburu Cinta Lokasi

Kita sering mendengar kisah cinta yang muncul karena kegiatan KKN. Ya, KKN. Kuliah Kerja Nyata yang menjadi mata kuliah wajib untuk mahasiswa. Kisah-kisah cinta karena KKN tidak hanya dalam fiksi, tetapi ada yang benar-benar terjadi. Bertemunya sekelompok mahasiswa dalam kegiatan bersama selama sebulan penuh di sebuah desa membuat mereka saling berinteraksi dan saling kenal satu sama lain. Tidaklah heran jika terjadi cinta lokasi selama dan sesudah KKN, bahkan ada yang berlanjut hingga ke jenjang pernikahan.  Berfoto dengan Kepala Desa setempat Sebuah pengalaman si anak bungsu yang baru saja pulang dari KKN mengilhami saya untuk menuliskan kisahnya untuk Tantangan Ngeblog Mamah Gajah Ngeblog bulan Agustus 2022 ini. Ini bukan kisah anakku tapi kisah temannya. Anakku sendiri tak berminat bahkan menghindari cinta lokasi di KKN. Hal itu karena peserta KKN adalah teman seangkatan. Itu berarti mereka berada di usia yang sama. Sementara anakku telah menetapkan diri bahwa j
Postingan terbaru

Kuliah Lagi dan Hobi

Tak terasa, tahu-tahu sudah memasuki bulan Juli 2022. Mamah Gajah Ngeblog pun telah mengeluarkan tema untuk tantangan menulis blog untuk bulan Juli ini. Tema Tantangan Mamah Gajah Ngeblog Bulan Juli 2022 adalah hal-hal yang ingin dipelajari.  Ya, namanya juga sebuah keinginan, ini tentunya akan sangat panjang untuk dituliskan. Saya pun bingung harus mulai dari mana.   Merasa Tak Layak menjadi Sarjana Kimia Tak dipungkiri bahwa Tuhan telah menciptakan alam semesta ini dengan segala keunikan dan keajaibannya yang luar biasa. Rasanya kok sombong sekali kalau baru tahu sedikit ilmu lalu merasa pandai. Hal ini mulai saya rasakan ketika lulus sarjana.  Ternyata saya tidak tahu apa-apa. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya bahwa saya lulusan ITB jurusan Kimia. Untuk menyelesaikan tahap sarjana, mahasiswa dipersilakan memilih sub jurusan yang diminati. Di jurusan Kimia, sub jurusan ada 5, yaitu Kimia Analitik, Kimia Fisik, Kimia Organik, Kimia Anorganik, dan Biokimia. Setidakn

𝑷𝒂𝒓𝒆𝒏𝒕𝒊𝒏𝒈, 𝐃𝐮𝐥𝐮 𝐝𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠

Hari Pendidikan Nasional sudah lewat. Namun, berbicara tentang pendidikan yang berkaitan dengan pola asuh anak tentunya akan tetap mengasyikkan dan tetap menjadi topik menarik bagi para orang tua, terutama yang memiliki anak. Seperti halnya para Mamah Gajah yang menetapkan Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni 2022 ini tentang Mamah dan Parenting . Memasuki dunia rumah tangga, setiap orang akan mendambakan hadirnya seorang anak. Keberadaan anak, tentunya, akan melengkapi kebahagian dalam keluarga dan menjadi semangat untuk menjalani kehidupan di masa depan. Berbagai rencana untuk semua hal akan dilakukan, termasuk pendidikan untuk anak-anak. Pada dasarnya, di zaman apapun, harapan setiap orang tua terhadap anaknya adalah sama. Sama-sama mengharapkan anak-anaknya akan tumbuh menjadi anak yang baik, sopan, rajin, berempati, dan segala hal sifat baik yang menunjukkan sebuah karakter pribadi yang baik. Untuk itu, setiap orang tua akan mengajarkan hal-hal baik. Namun, orangtua

Metamorfosa Gudeg

Hari berganti terasa cepat. Tak terasa sudah memasuki bulan Mei 2022. Aktivitas harian begitu padat sejak bulan Ramadan yang jatuh pada bulan April lalu. Awal bulan Mei sudah dipadati dengan kegiatan Hari Raya Idulfitri dan silaturahmi dengan tetangga dan sanak famili. Namun Tantangan Ngeblog Mamah Gajah Ngeblog bukan berarti libur. Tantangan ngeblog tetap berjalan seperti biasa, dan tema bulan Mei ini adalah mengenai kuliner di daerah asal tempat tinggal. Berhubung aku tinggal di Yogyakarta, aku akan menuliskan tentang kuliner kota Yogyakarta.  Agak bingung juga sebenarnya, mau menulis mulai dari mana, ya? Hal itu karena sudah banyak yang mengulas tentang kuliner kota Yogyakarta, dari mulai makanan berat sampai camilan. Mungkin aku tidak terlalu kompeten untuk mengulasnya tapi ada satu hal menarik yang ingin aku tulis, yaitu tentang gudeg.  Kisah Gudeg Yogyakarta Kota Yogyakarta memang terkenal sebagai kota gudeg. Akan tetapi, orang tua ku yang berasal dari Solo mengenalkan aku dengan

Menari dalam Perjalanan Hidup

Kalau ditanya tentang hobi, ingatan langsung terbayang buku data diri yang terdapat pada buku kenangan. Setelah nama-alamat-tempat dan tanggal lahir, hobi  adalah pertanyaan berikutnya. Dulu, aku selalu mengisi kolom hobi dengan menari. Yah, menari. Sejak Taman Kanak-kanak hingga SD, aku belajar menari di rumah tetangga yang berasal dari Bali. Aku memanggilnya dengan panggilan Tante Ketut.  Awal kegiatan menari itu karena ada kesepakatan antar kompleks untuk bisa mengisi Hari Kemerdekaan RI dengan segala kegiatan budaya daerah. Beruntung di kompleks kami ada Tante Ketut yang bisa mengajarkan kami menari. Para pemuda dan pemudi yang minat dalam bidang menari dan drama berkumpul untuk latihan bersama. Aku didorong oleh bapak untuk bisa ikut serta. Di situlah, aku menjadi satu-satunya penari cilik. Aku dan empat pemudi lain menarikan Tari Pendet. Pemuda dan pemudi lainnya terlibat dalam drama dengan setting kerajaan Bali. Aku tidak ingat ceritanya seperti apa. Yang kuingat, pamanku berper

Demi Sebuah Kartu Perpustakaan

  Di pelataran masjid Salman, Mira tampak panik. Dompetnya tak ditemukan di dalam tasnya. Tangannya masih sibuk membongkar isi tasnya. Ani yang baru saja selesai salat dzuhur melihat Mira dengan heran. “Nyari apa? Kok sampe dikeluarin semua gitu?” “Dompetku gak ada, Ni!” seru Mira panik. “Ya ampun. Gimana ini? Gak bisa beli makan dong. Terus, nanti aku pulang, bayar angkotnya gimana?”  “Udah, dicari yang bener dulu…. Salah nyimpen, kali,” ujar Ani.  “Kamu lihat sendiri, kan. Ini tasku udah kukosongin ….” Jelas Mira sambil menunjukkan tasnya yang sudah dikosongkan.  “Ani, boleh aku pinjam uangmu dulu? Setidaknya untuk aku makan siang dan transport pulang.” Kata Mira dengan memelas. “Iya, iya. Boleh kok.” Jawab Ani sambil mengeluarkan selembar uang berwarna hijau dari dompetnya. “Makasih, ya,” ucap Mira sambil memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas. Namun, pikiran Mira tak kemudian menjadi benar-benar tenang. “Ya, ampun. Dalam dompetku itu, ada KTP, KTM, kartu Perpu

Hati yang Tegar (2)

Sehari ini terasa begitu sibuk dengan urusan antar jemput Talitha, dan rutinitas harian. Usai makan malam dilihatnya Talitha kembali ke kamarnya dan mengerjakan tugas sekolahnya. Bella merebahkan tubuhnya di sofa untuk melepaskan lelahnya. Ia pun meletakkan kedua kakinya di atas lengan sofa. Sesaat kemudian, ia teringat bahwa seharian ini, ia telah mematikan gawainya. Ia pun terduduk dan meraih gawainya yang tergeletak di meja samping sofa itu.  Ah, seharian ini ternyata banyak pesan masuk yang tak dihiraukannya. Namun kebanyakan dari obrolan grup. Jemarinya masih terus menelusuri pesan-pesan di layar gawainya hingga terhenti pada sebuah pesan. Pesan dari Toddy. Rupanya, obrolan pagi tadi berlanjut.  Namun, hatinya ragu untuk membuka pesan itu. Berulang kali terhubung dengan mantan suaminya itu, ia selalu kembali terluka. Menjauh adalah pilihannya untuk bisa melanjutkan kehidupan secara normal kembali. Sementara segala keperluan Talitha, ia serahkan pada Talitha untuk mengh

Tentang Kemampuan Diri

Ketika akses pendidikan begitu sulit dijangkau, orang akan mempunyai banyak alasan untuk tidak meningkatkan kemampuan diri. Alasan yang sering didengar adalah jarak dan biaya. Namun untuk saat ini, hal itu sudah tak berlaku lagi.  Teknologi informasi sudah sangat memudahkan kita untuk menghubungi apa saja, siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Dalam hal dunia pendidikan, semua ilmu sudah dengan mudah bisa diakses dengan sentuhan jari. Benar-benar sangat mudah. Adanya telepon pintar pun memudahkan akses itu dilakukan di mana saja. Dunia ada dalam genggaman, demikian disebutkan.  Pertanyaannya, apakah telepon pintar yang kita gunakan sudah kita optimalkan fungsinya?  Sekian banyak aplikasi sudah tersedia yang bisa kita manfaatkan segala keperluan kita. Untuk menulis, banyak pilihan aplikasi yang bisa kita pilih untuk menuangkan apa yang kita pikirkan dan rasakan. Untuk membaca pun demikian, banyak aplikasi membaca bahkan buku-buku yang bisa diakses secara daring. Tentang i

Hati yang Tegar (1)

Tiba-tiba saja, terdengar suara dering gawai. Bella hanya sempat melirik sesaat pada gawainya. Ada pesan masuk. Namun, Ia tak bisa menjawabnya saat ini. Perhatiannya tengah penuh pada padatnya lalu lintas. Berulang kali kakinya menginjak rem dan tangannya sibuk mengarahkan setir dan gigi.  Lalu lintas memang selalu sibuk di setiap pagi. Setelah mengantar Talitha ke sekolah, pagi itu, Bella harus segera pulang  untuk membersihkan rumah, memasak, dan mulai bekerja. Sekarang, semua pekerjaan rumah harus ia kerjakan sendiri. Tak ada lagi asisten rumah tangga. Semua itu harus ia lakukan demi menghemat pengeluaran rumah tangga. Perceraiannya dengan Toddy, suaminya, berbuntut dengan pengurangan nafkah yang ia terima.  Setibanya di rumah, Bella baru sempat membuka gawainya. Dilihatnya pesan yang tadi masuk. Dari Toddy :  “Mungkin kita sebaiknya menjadi teman saja.”  Bella mengernyitkan dahinya. ‘ Apa maksudnya dengan tulisan ini?’ pikirnya. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba

Nasihat dalam Jajanan Pasar

Bulan puasa telah tiba. Pagi itu, setelah sahur, Farhan tak dapat menahan rasa kantuknya sehingga ia tertidur di atas  sajadahnya setelah salat subuh.  Ibu menggendong putranya yang masih berumur enam tahun itu ke dalam kamar.  Pagi yang cerah dengan matahari bersinar terang. Hangat sinarnya menembus jendela kamar dan membangunkan Farhan.  Baru saja ia keluar dari kamar, ia melihat Ibu yang datang dari pasar. Tampaknya, ibu berbelanja cukup banyak hari itu. Ada dua tas belanja yang dibawanya.  “Eh, anak ibu sudah bangun, nih,” sapa ibu melihat Farhan berdiri di depan pintu kamarnya. Farhan menjawab dengan mengucek-ucek mata bulatnya. Ia lalu mengikuti ibu yang berjalan ke arah dapur.  “Ibu, habis belanja, ya?” tanyanya dengan nada malas.  “Iya. Nanti ibu mau bikin kolak untuk buka puasa. Farhan suka, ‘kan?” tanya ibu kemudian. Farhan menganggukkan kepalanya sambil membelalakkan matanya demi melihat apa saja yang telah dibeli ibu. “Ya, sudah. Sekarang mandi dulu, ya.” ujar i