Langsung ke konten utama

Pengalaman Berbahasa dalam Kehidupan Sehari-hari

Berkomunikasi itu sangat berkaitan dengan bahasa. Setiap orang mempunyai bahasa berdasarkan asal daerahnya masing-masing. 

Indonesia mempunyai bahasa daerah yang sangat banyak. Tapi bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu. Sementara apa yang disebut bahasa ibu adalah bahasa yang digunakan ibu kita. 

Dahulu, bahasa ibu berarti juga bahasa daerah asal. Tetapi, semakin bertambahnya jumlah penduduk dan penyebaran penduduk melalui transmigrasi, kita lebih sering bertemu dengan orang-orang dari lain daerah. Dengan begitu, komunikasi yang digunakan lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. 

Tahun 1970an, saya masih sering mendengar ibu saya berbicara menggunakan bahasa Jawa dengan para tetangga yang berasal dari Jawa Tengah. Bahkan dengan tukang sayur. Namun akan menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan tetangga yang berasal dari luar Jawa. 

O ya. Saya lupa mengenalkan diri. 
Kedua orang tua saya berasal dari Solo, Jawa Tengah. Karena bapak saya adalah wamil yang di tugaskan di Bandung, kami, anak-anaknya, lahir di Bandung. Kami tinggal di kompleks Secapa TNI AD. Beberapa tetangga yang juga keluarga tentara ada yang dari Jawa tengah, ada pula yang berasal dari Sumatera, Bali, dan Kalimantan.

Ibu masih menggunakan bahasa Jawa dengan tingkatan halus jika berbicara dengan orang Jawa yang lebih tua dan orang yang punya jabatan lebih tinggi. Bahkan ibu berbahasa Jawa halus pula jika bicara dengan bapak. 
Benar-benar orang Jawa yang menjunjung budaya Jawa meski tidak seutuhnya. 

Sementara kami, anak-anaknya, lebih sering menggunakan bahasa Indonesia karena kami bergaul dengan teman-teman yang beragam sukunya. Tapi bagaimanapun, tinggal di Bandung memang akan lebih banyak bertemu orang dengan suku Sunda. Dengan demikian, yang lebih sering saya dengar, mereka berbahasa Sunda dengan level sedang cenderung kasar yang biasa digunakan sebagai bahasa pergaulan mereka. 

Ketika SD, pelajaran bahasa daerah yang dipelajari tentunya bahasa Sunda. Pelajaran ini menjadi tidak saya sukai karena saya tidak bisa mengikutinya. Setiap ada PR, saya tidak bisa mengerjakannya. Tidak ada orang yang bisa saya jadikan tempat bertanya dan saya mintai tolong untuk mengajari. 
Buku paket bahasa Sunda pun tidak bisa saya baca karena tidak mengerti artinya. 
Lebih kacau lagi, ketika kelas 3 dan 4 SD, guru agama menggunakan bahasa Sunda untuk menjelaskan pelajaran agama. 
Yang bisa saya lakukan hanya mencatat apa yang tertulis di papan tulis tanpa saya mengerti apa artinya pula. 

Alhamdulillah-nya, serendah apapun nilai ujian akhir, nilai di rapot masih dinyatakan lulus meski di angka terendah. Sehingga, saya masih bisa terus naik kelas. 

Kelas 5 SD, saya pindah sekolah. Masih di Bandung, tetapi, guru bahasa Sunda di sekolah itu menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar. Saya jadi lebih bersemangat untuk belajar. Setiap kata, saya tanyakan artinya. Ibu guru itu sangat memaklumi dan sangat membantu saya. 

Kemampuan berbahasa pun menjadi campur aduk meski lebih didominasi bahasa Indonesia. Di rumah, kami berbahasa Indonesia yang tercampur bahasa Jawa. Di sekolah dan lingkungan bermain, kami berbahasa Indonesia yang tercampur bahasa Sunda. Akibat dari kondisi itu, saya bisa paham bahasa Jawa dan bahasa Sunda pada level mendengar dan mengerti saja. Untuk mengucapkannya, saya takut salah. Apalagi kedua bahasa daerah itu memiliki tingkatan bahasa. Sehingga, rasa takut salah itu lebih pada takut salah pada pemilihan kata yang tepat, yang bisa berakibat dianggap tidak sopan nantinya. 

Menginjak duduk di tingkat SMP,  guru bahasa Sunda kami mengerti bahwa saya dan beberapa teman dari suku Jawa tidak bisa berbahasa Sunda dengan lancar. Ketika kami mendapat tugas mengarang dengan bahasa Sunda, kami dibolehkan untuk menuliskan tugas kami dengan bahasa Indonesia. Padahal sebelumnya, kami sudah lemas dan merasa pucat mendengar tugas tersebut.  Tetapi, meski menggunakan bahasa Indonesia, tulisan kami tetap diperiksa penggunaan tata bahasanya. 

                    -----🌹-----

Bahasa yang kita gunakan akan mempengaruhi cara kita berbicara. Sehingga dialek seseorang bisa mencirikan seseorang berasal dari mana. 

Ketika tinggal di Bandung, teman-teman bilang bahwa dialek saya sangat kental bahasa Jawanya. Medok Jawanya, mereka bilang. 
Tetapi setelah saya tinggal di Jawa Tengah (sempat tinggal di Semarang selama 2 tahun dan sekarang di Yogyakarta), orang bilang dialek saya terdengar ciri Sundanya. 

Kok jadi lucu ya...
Kemampuan setengah-setengah ini akhirnya mengalah dengan penggunaan bahasa Indonesia yang dirasa aman. 

                -------🌹-------

Setelah dunia maya dikenal banyak orang, ada banyak perkembangan bahasa di sekitar kita. Ada pula kesadaran orang untuk melestarikan bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Seperti ada kesepakatan orang-orang Sunda dengan adanya Rabu Nyunda. Di hari Rabu, mereka bersepakat untuk menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari. Untuk bahasa Jawa, di Jawa Tengah dan Yogyakarta, masih sangat nanyak yang menggunakannya. Bahkan, sebagai upaya pelestarian budaya, nama jalan, selain ditulis dengan bahasa Indonesia, dituliskan juga dengan menggunakan Bahasa Jawa. Kegiatan seni budaya yang menggunakan bahasa Jawa seperti tarian ketoprak, sendratari, ataupun pertunjukan wayang masih menggunakan bahasa Jawa. 

Yah, memang ada perlunya melestarikan bahasa daerah. 

Pernah saya baca di suatu berita bahwa ada bahasa daerah  yang punah karena sudah tidak ada lagi penuturnya. Pelestarian bahasa ini perlu sebagai bagian dari pelestarian budaya. 

Beberapa kata dari bahasa daerah yang diserap dan dibakukan menjadi bahasa Indonesia pun banyak. Itu karena banya yang menuturkan kata itu. Selain itu, pengayaan bahasa Indonesia pun karena adanya serapan dari bahasa asing. 

Generasi sekarang, mungkin, sudah sangat jarang yang sehari-harinya menggunakan bahasa daerah. Apalagi bahasa daerah itu dipakai sebagai bahasa ibu. 
Seperti anak-anak saya, meski ketika SD hingga SMA masih mendapat pelajaran bahasa daerah (Bahasa Jawa), bahasa sehari-hari mereka adalah bahasa Indonesia. Dengan era globalisasi, percakapan mereka kadang diselingi bahasa Inggris seperti kebiasaan orang-orang Jakarta Selatan berbahasa. 

Ya begitulah bahasa sehari-hari. 
Membicarakan bahasa dan budaya memang sangat menarik. Jika kita bicarakan bahasa yang berkaitan dengan budaya, tulisan ini akan sangat panjang sekali. Belum lagi kata-kata serapan yang ditetapkan untuk menjawab kebutuhan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. 

Insyaallah, jika ada kesempatan untuk menulis tentang kebahasaan, akan saya tulis sebagai sambungan dari tulisan ini. 

                   🌹🌹🌹




Komentar

  1. Wah sesama anak kolong kita hehe..
    Karena tugas ortu pindah-pindah jadi mempengaruhi kemampuan berbahasa juga ya mbaa..
    Tapi jadinya bisa bertemu banyak suku ya 😊

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Lagi

Gabung dengan berbagai komunitas itu membuat kita terlibat dengan banyak ragam aktifitas dan  memunculkan ide untuk aktifitas positif baru.  Salah satu komunitas yang kuikuti di facebook ialah ITB Motherhood, suatu group mamah-mamah alumni Institut Gajah di Bandung. Tidak terlalu aktif di dalam group tersebut, tapi kalau ada konten menarik bisa jadi akan urun komentar atau benar-benar akan terlibat di dalamnya.  Suatu malam, menjelang istirahat kusempatkan buka hp dan sesaat berhenti di suatu postingan tentang menulis di blog. Hmmmm menarik.  Ku buka blog ku ini.. ah , ternyata sudah sangat lama tak menulis disini meski kegiatan menulis masih saja berlanjut, tapi menulis di media lain.  Ku pikir, ini aktifitas yang bagus untuk menantang diri ku sendiri untuk disiplin menulis, dan juga melatih kemampuan ku dalam hal menulis.  Kalau kuingat mengapa dulu ingin punya blog adalah ingin punya tempat untuk curhat. Semacam diary pribadi yang biasanya menjadi rahasia pribadi.  Sempat beberapa t

Melanjutkan Pendidikan dengan Minat

Masa SD hingga SMA Ketika SD, ada kebiasaan kami untuk bertukar biodata. Kebiasaan tersebut menjadi sesuatu yang penting ketika menjelang kelulusan SD, karena, bisa jadi, kami tidak bertemu lagi di pendidikan selanjutnya. Bisa karena tidak satu sekolah yang sama atau pindah keluar kota. Salah satu point yang harus diisi adalah cita-cita.  Saat berusia 12 tahun, aku masih bingung untuk menetapkan cita-cita apa yang ingin ku raih. Karena itu, aku mengikuti pilihan teman-teman ku yang kebanyakan memilih sebagai insinyur pertanian, meski aku tak tahu bagaimana dan apa yang harus aku lakukan untuk meraihnya selain rajin belajar.  Ketika SMP, perhatian ku lebih banyak ke kegiatan ekstra kurikuler seperti pramuka, OSIS, dan pelajaran keterampilan pilihan yang bisa berganti-ganti di setiap semesternya. Hal itu membuat wawasan dan keterampilan ku menjadi beraneka di bidang bahasa, olah raga dan seni. Sementara minat khusus yang berhubungan dengan mata pelajaran belum muncul. Sekolah kulalui beg

Dengan Empati, Kita Hilangkan Pembajakan Sebuah Karya.

Pernah nggak kemalingan sesuatu barang ? Gimana rasanya kehilangan dengan cara paksa seperti kemalingan itu ?  Kalau kehilangan kekasih karena diambil orang, itu disebutnya ditikung, ya? Tapi esensinya sama, kemalingan ! Saya mulai tulisan ini dengan pertanyaan soal kemalingan karena tulisan ini akan mengulas tentang pembajakan. Hal ini berkaitan dengan Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Agustus 2021 ini. Tema tulisan tantangan kali ini adalah  Hidup Tanpa Bajakan .  Saya menyoroti efek kemalingan dari pihak korban di awal tulisan sebagai upaya menggugah empati teman-teman yang membaca tulisan ini. Yah...empati, sebuah sikap yang bisa merasakan penderitaan pihak lain sehingga tidak akan melakukan tindakan yang menyebabkan derita itu pada orang lain.  Betapa korban akan merasakan sedih karena kehilangan. Kerugian pun bisa juga dirasakan oleh korban jika sesuatu yang hilang itu memiliki nilai. Contohnya seperti kehilangan uang, harta benda, aset tangible maupun in