Langsung ke konten utama

Postingan

My Quantum Leap

Pandemi Covid-19 sepanjang tahun 2020 memberi cerita tersendiri untukku. Selain harus menjaga kesehatan pribadi, menjaga kebersihan rumah lebih seksama lagi, donasi APD ke rumah sakit, dan tak terhindarkannya waktu luang yang membuat ku tak melepaskan gadget dari genggaman.  Kontak dengan teman dan famili melalui media sosial apa saja menjadi kegiatan yang lebih rutin dilakukan. Informasi tersampaikan melalui online text, video call, maupun zoom meeting.  Training yang harus ku ikuti selalu menunggu kuota, kini training online pun berlangsung tanpa harus menunggu kuota, karena mau tak mau kuota akan terpenuhi dengan peserta seluruh Indonesia bisa bergabung secara online.  Menjadi tahu aktifitas detail teman- teman dan famili, karena mereka pun memposting kegiatannya di media sosial. Demikian juga dengan aktifitas kakak sepupu yang bahkan mengajak untuk membuat antologi.  Membuat tulisan yang kemudian terbit menjadi buku adalah sebuah impian. Tentu saja aj...

Menulis Lagi

Gabung dengan berbagai komunitas itu membuat kita terlibat dengan banyak ragam aktifitas dan  memunculkan ide untuk aktifitas positif baru.  Salah satu komunitas yang kuikuti di facebook ialah ITB Motherhood, suatu group mamah-mamah alumni Institut Gajah di Bandung. Tidak terlalu aktif di dalam group tersebut, tapi kalau ada konten menarik bisa jadi akan urun komentar atau benar-benar akan terlibat di dalamnya.  Suatu malam, menjelang istirahat kusempatkan buka hp dan sesaat berhenti di suatu postingan tentang menulis di blog. Hmmmm menarik.  Ku buka blog ku ini.. ah , ternyata sudah sangat lama tak menulis disini meski kegiatan menulis masih saja berlanjut, tapi menulis di media lain.  Ku pikir, ini aktifitas yang bagus untuk menantang diri ku sendiri untuk disiplin menulis, dan juga melatih kemampuan ku dalam hal menulis.  Kalau kuingat mengapa dulu ingin punya blog adalah ingin punya tempat untuk curhat. Semacam diary pribadi yang biasanya menjadi rahasi...

Obrolan sore

Sabtu sore itu, cuaca panas membuat lelah lebih terasa. Bersantai sambil berbincang, seorang ibu dan anaknya menikmati angin sepoi-sepoi dari sela jendela. Sang anak yang masih terkesan dengan pernikahan kawan sepermainannya semalam menuangkan berjuta tanya yang berjejal di benaknya. "Begitu cepatnya waktu berlalu, secepat proses ijab qabul itu. Begitu terpolanya hidup dan apakah setiap kehidupan harus berjalan dengan pola yang sama ?  Lahir, sekolah, kuliah, menikah, punya anak, dan kemudian mati?" sang anak bertanya ketika teringat akan kawannya yang punya orientasi sexual berbeda. "Bagaimana dengan 16 gender yang lain ? Dengan keadaannya itu, kan tidak mungkin mereka akan mempunyai anak ?" Anakku, Tuhan hanya menciptakan laki-laki dan perempuan, tidak ada disebutkan bahwa Tuhan menciptakan jenis kelamin lain selain itu. Tentang gender itu, pernahkah kau berpikir, bahwa Allah berfirman dengan menyampaikan berbagai perumpamaan dan menyebu...

Porselein Pecah

Ketika waktu terus berjalan, dan berharap bisa berjalan sesuai impian, namun Ikatan diputus dengan sengaja dengan alasan yang dicari2. Impian tinggallah impian Sementara ada harapan yang hilang menguap, Ada Luka tercipta, Ada air mata yang dipaksa menetes, Ada sakit yang terus menerus ditorehkan Luka yang tak jua diupayakan untuk sembuh, tapi justru ditambah dengan Luka Baru Lagi Lagi Dan lagi..... Bertahun hingga .. ah sampai kapan ? Aku tak tahu. Jalani saja hidup ini. 

Move on

Membersihkan rumah, itu juga berarti membongkar semua yang pernah disimpan. Menyeleksi mana yang masih digunakan dan mana yang sudah selayaknya dibuang. Itu pun berarti akan menemukan sejumlah kenangan. Kenangan manis dan pahit. Tak pernah terbayang sebelumnya , kalau aku akan membuang separuh kenangan hidupku, meski itu adalah kenangan indah sekalipun. Tapi aku harus lakukan itu, karena disitulah luka bermula. Luka takkan bisa benar-benar sembuh jika selalu membalut luka tapi racun masih mengendap. Move on itu harus dilakukan dengan action yang nyata, bukan hanya sekedar kata. Hati, tindakan dan pikiran harus bergerak serentak. Itulah sebabnya​.. harus kuat hati untuk bertindak. Jika waktu bisa berputar ulang, aku ingin mengulang semuanya. Tapi tidak. Kita tak berhak untuk itu. Yang bisa kulakukan hanya memperbaiki diri, agar masa mendatang tidak terjadi kesalahan dan kekecewaan lagi. Disamping harus berdamai dengan takdir yang sudah terjadi. Itu semua berarti, memaa...