Langsung ke konten utama

Vaksin

#Harike2 kemarin terlewat sudah. Ada kejadian yang ingin kubagi disini. Tapi kutunda dengan berbagai pertimbangan. 

Ini soal vaksin. Vaksin Covid-19 yang sedang diupayakan untuk diberikan ke seluruh rakyat Indonesia agar memiliki kekebalan terhadap virus corona.

Kemarin pagi, kakak dan adikku menyampaikan kabar bahwa mereka berdua sudah mendapat vaksin Covid-19 yang pertama. Mereka bercerita bagaimana efek vaksin covid pada tubuh mereka. Kakakku merasa lemas dan merasa mengantuk terus, sedangkan adikku merasakan tubuhnya yang menggigil hingga malam harinya. Sementara teman-temanku yang sudah mendapatkan vaksin tersebut merasakan efeknya adalah lemas, cepat lelah dan cepat merasa lapar. 
Betapa efek vaksin itu berbeda-beda pada setiap tubuh. Jujur aku akui bahwa ada rasa takut jika efeknya membuatku menjadi sakit, apapun sakitnya. Ketakutan itu membuatku hatus menjaga stamina sejak sekarang. 

Belum lagi kabar tentang halal atau haramnya vaksin-vaksin tersebut diproduksi. Andai bisa memilih, tentu aku akan memilih yang halal dan bisa kupastikan kehalalannya sebelum vaksin itu masuk ke dalam tubuhku. 

Tulisan ini tertunda karena memang belum matang untuk ditayangkan. Selain informasi yang simpang siur, terlalu banyak informasi yang harus dibaca malah menjadi bingung. Mungkin orang yang lebih awam dari ku lebih banyak lagi, dan bisa jadi mereka mempunyai ketakutan yang lebih besar dariku. 

Siapa yang tidak ingin sehat ? Tidak ada , kan. Semua orang ingin sehat, dan untuk mencegah tertular virus corona, mau tak mau, haruslah menjalani vaksinasi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Lagi

Gabung dengan berbagai komunitas itu membuat kita terlibat dengan banyak ragam aktifitas dan  memunculkan ide untuk aktifitas positif baru.  Salah satu komunitas yang kuikuti di facebook ialah ITB Motherhood, suatu group mamah-mamah alumni Institut Gajah di Bandung. Tidak terlalu aktif di dalam group tersebut, tapi kalau ada konten menarik bisa jadi akan urun komentar atau benar-benar akan terlibat di dalamnya.  Suatu malam, menjelang istirahat kusempatkan buka hp dan sesaat berhenti di suatu postingan tentang menulis di blog. Hmmmm menarik.  Ku buka blog ku ini.. ah , ternyata sudah sangat lama tak menulis disini meski kegiatan menulis masih saja berlanjut, tapi menulis di media lain.  Ku pikir, ini aktifitas yang bagus untuk menantang diri ku sendiri untuk disiplin menulis, dan juga melatih kemampuan ku dalam hal menulis.  Kalau kuingat mengapa dulu ingin punya blog adalah ingin punya tempat untuk curhat. Semacam diary pribadi yang biasanya menjadi rahasi...

Desember 2021

Biasanya ada tantangan menulis dari grup Mamah Gajah Ngeblog. Kali ini, grup MGN tidak mengeluarkan tantangan menulis, hanya mengajak untuk membuat tulisan bebas saja.  Kebetulan ini bulan Desember, menjelang akhir tahun dan masih diliputi masa pandemi. Awal bulan Desember ini, cuaca panas dan hujan hanya turun sesekali saja. Kadang siang panas menyengat kemudian menjelang malam hujan dan suhu udara mendadak dingin. Suasana musim seperti ini bisa membuat sakit Masa kecil ku berada di kota Bandung. Kota Kembang yang berudara dingin dan masih sering muncul kabut di pagi hari kala itu, tahun 1970an. Momen-momen bulan Desember yang masih kuingat adalah hujan sehari-hari dan aku terserang penyakit langganan, flu.  Sepanjang hari, langit mendung dan hujan rintik ataupun deras. Sepanjang mata memandang, langit nampak putih kelabu. Hawa dinginnya selalu. Ketika hujan deras, air hujan membasahi jendela rumah. Aku suka memandangi tetesan air hujan yang mengalir di jendela it...

Menari dalam Perjalanan Hidup

Kalau ditanya tentang hobi, ingatan langsung terbayang buku data diri yang terdapat pada buku kenangan. Setelah nama-alamat-tempat dan tanggal lahir, hobi  adalah pertanyaan berikutnya. Dulu, aku selalu mengisi kolom hobi dengan menari. Yah, menari. Sejak Taman Kanak-kanak hingga SD, aku belajar menari di rumah tetangga yang berasal dari Bali. Aku memanggilnya dengan panggilan Tante Ketut.  Awal kegiatan menari itu karena ada kesepakatan antar kompleks untuk bisa mengisi Hari Kemerdekaan RI dengan segala kegiatan budaya daerah. Beruntung di kompleks kami ada Tante Ketut yang bisa mengajarkan kami menari. Para pemuda dan pemudi yang minat dalam bidang menari dan drama berkumpul untuk latihan bersama. Aku didorong oleh bapak untuk bisa ikut serta. Di situlah, aku menjadi satu-satunya penari cilik. Aku dan empat pemudi lain menarikan Tari Pendet. Pemuda dan pemudi lainnya terlibat dalam drama dengan setting kerajaan Bali. Aku tidak ingat ceritanya seperti apa. Yang kuingat, paman...