Langsung ke konten utama

Postingan

Metamorfosa Gudeg

Hari berganti terasa cepat. Tak terasa sudah memasuki bulan Mei 2022. Aktivitas harian begitu padat sejak bulan Ramadan yang jatuh pada bulan April lalu. Awal bulan Mei sudah dipadati dengan kegiatan Hari Raya Idulfitri dan silaturahmi dengan tetangga dan sanak famili. Namun Tantangan Ngeblog Mamah Gajah Ngeblog bukan berarti libur. Tantangan ngeblog tetap berjalan seperti biasa, dan tema bulan Mei ini adalah mengenai kuliner di daerah asal tempat tinggal. Berhubung aku tinggal di Yogyakarta, aku akan menuliskan tentang kuliner kota Yogyakarta.  Agak bingung juga sebenarnya, mau menulis mulai dari mana, ya? Hal itu karena sudah banyak yang mengulas tentang kuliner kota Yogyakarta, dari mulai makanan berat sampai camilan. Mungkin aku tidak terlalu kompeten untuk mengulasnya tapi ada satu hal menarik yang ingin aku tulis, yaitu tentang gudeg.  Kisah Gudeg Yogyakarta Kota Yogyakarta memang terkenal sebagai kota gudeg. Akan tetapi, orang tua ku yang berasal dari Solo mengenalkan a...

Menari dalam Perjalanan Hidup

Kalau ditanya tentang hobi, ingatan langsung terbayang buku data diri yang terdapat pada buku kenangan. Setelah nama-alamat-tempat dan tanggal lahir, hobi  adalah pertanyaan berikutnya. Dulu, aku selalu mengisi kolom hobi dengan menari. Yah, menari. Sejak Taman Kanak-kanak hingga SD, aku belajar menari di rumah tetangga yang berasal dari Bali. Aku memanggilnya dengan panggilan Tante Ketut.  Awal kegiatan menari itu karena ada kesepakatan antar kompleks untuk bisa mengisi Hari Kemerdekaan RI dengan segala kegiatan budaya daerah. Beruntung di kompleks kami ada Tante Ketut yang bisa mengajarkan kami menari. Para pemuda dan pemudi yang minat dalam bidang menari dan drama berkumpul untuk latihan bersama. Aku didorong oleh bapak untuk bisa ikut serta. Di situlah, aku menjadi satu-satunya penari cilik. Aku dan empat pemudi lain menarikan Tari Pendet. Pemuda dan pemudi lainnya terlibat dalam drama dengan setting kerajaan Bali. Aku tidak ingat ceritanya seperti apa. Yang kuingat, paman...

Demi Sebuah Kartu Perpustakaan

  Di pelataran masjid Salman, Mira tampak panik. Dompetnya tak ditemukan di dalam tasnya. Tangannya masih sibuk membongkar isi tasnya. Ani yang baru saja selesai salat dzuhur melihat Mira dengan heran. “Nyari apa? Kok sampe dikeluarin semua gitu?” “Dompetku gak ada, Ni!” seru Mira panik. “Ya ampun. Gimana ini? Gak bisa beli makan dong. Terus, nanti aku pulang, bayar angkotnya gimana?”  “Udah, dicari yang bener dulu…. Salah nyimpen, kali,” ujar Ani.  “Kamu lihat sendiri, kan. Ini tasku udah kukosongin ….” Jelas Mira sambil menunjukkan tasnya yang sudah dikosongkan.  “Ani, boleh aku pinjam uangmu dulu? Setidaknya untuk aku makan siang dan transport pulang.” Kata Mira dengan memelas. “Iya, iya. Boleh kok.” Jawab Ani sambil mengeluarkan selembar uang berwarna hijau dari dompetnya. “Makasih, ya,” ucap Mira sambil memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas. Namun, pikiran Mira tak kemudian menjadi benar-benar tenang. “Ya, ampun. Dalam dompetku itu, ada KT...

Hati yang Tegar (2)

Sehari ini terasa begitu sibuk dengan urusan antar jemput Talitha, dan rutinitas harian. Usai makan malam dilihatnya Talitha kembali ke kamarnya dan mengerjakan tugas sekolahnya. Bella merebahkan tubuhnya di sofa untuk melepaskan lelahnya. Ia pun meletakkan kedua kakinya di atas lengan sofa. Sesaat kemudian, ia teringat bahwa seharian ini, ia telah mematikan gawainya. Ia pun terduduk dan meraih gawainya yang tergeletak di meja samping sofa itu.  Ah, seharian ini ternyata banyak pesan masuk yang tak dihiraukannya. Namun kebanyakan dari obrolan grup. Jemarinya masih terus menelusuri pesan-pesan di layar gawainya hingga terhenti pada sebuah pesan. Pesan dari Toddy. Rupanya, obrolan pagi tadi berlanjut.  Namun, hatinya ragu untuk membuka pesan itu. Berulang kali terhubung dengan mantan suaminya itu, ia selalu kembali terluka. Menjauh adalah pilihannya untuk bisa melanjutkan kehidupan secara normal kembali. Sementara segala keperluan Talitha, ia serahkan pada Talitha un...

Tentang Kemampuan Diri

Ketika akses pendidikan begitu sulit dijangkau, orang akan mempunyai banyak alasan untuk tidak meningkatkan kemampuan diri. Alasan yang sering didengar adalah jarak dan biaya. Namun untuk saat ini, hal itu sudah tak berlaku lagi.  Teknologi informasi sudah sangat memudahkan kita untuk menghubungi apa saja, siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Dalam hal dunia pendidikan, semua ilmu sudah dengan mudah bisa diakses dengan sentuhan jari. Benar-benar sangat mudah. Adanya telepon pintar pun memudahkan akses itu dilakukan di mana saja. Dunia ada dalam genggaman, demikian disebutkan.  Pertanyaannya, apakah telepon pintar yang kita gunakan sudah kita optimalkan fungsinya?  Sekian banyak aplikasi sudah tersedia yang bisa kita manfaatkan segala keperluan kita. Untuk menulis, banyak pilihan aplikasi yang bisa kita pilih untuk menuangkan apa yang kita pikirkan dan rasakan. Untuk membaca pun demikian, banyak aplikasi membaca bahkan buku-buku yang bisa diakses secara dar...

Hati yang Tegar (1)

Tiba-tiba saja, terdengar suara dering gawai. Bella hanya sempat melirik sesaat pada gawainya. Ada pesan masuk. Namun, Ia tak bisa menjawabnya saat ini. Perhatiannya tengah penuh pada padatnya lalu lintas. Berulang kali kakinya menginjak rem dan tangannya sibuk mengarahkan setir dan gigi.  Lalu lintas memang selalu sibuk di setiap pagi. Setelah mengantar Talitha ke sekolah, pagi itu, Bella harus segera pulang  untuk membersihkan rumah, memasak, dan mulai bekerja. Sekarang, semua pekerjaan rumah harus ia kerjakan sendiri. Tak ada lagi asisten rumah tangga. Semua itu harus ia lakukan demi menghemat pengeluaran rumah tangga. Perceraiannya dengan Toddy, suaminya, berbuntut dengan pengurangan nafkah yang ia terima.  Setibanya di rumah, Bella baru sempat membuka gawainya. Dilihatnya pesan yang tadi masuk. Dari Toddy :  “Mungkin kita sebaiknya menjadi teman saja.”  Bella mengernyitkan dahinya. ‘ Apa maksudnya dengan tulisan ini?’ pikirnya. Tak ada angin, t...

Nasihat dalam Jajanan Pasar

Bulan puasa telah tiba. Pagi itu, setelah sahur, Farhan tak dapat menahan rasa kantuknya sehingga ia tertidur di atas  sajadahnya setelah salat subuh.  Ibu menggendong putranya yang masih berumur enam tahun itu ke dalam kamar.  Pagi yang cerah dengan matahari bersinar terang. Hangat sinarnya menembus jendela kamar dan membangunkan Farhan.  Baru saja ia keluar dari kamar, ia melihat Ibu yang datang dari pasar. Tampaknya, ibu berbelanja cukup banyak hari itu. Ada dua tas belanja yang dibawanya.  “Eh, anak ibu sudah bangun, nih,” sapa ibu melihat Farhan berdiri di depan pintu kamarnya. Farhan menjawab dengan mengucek-ucek mata bulatnya. Ia lalu mengikuti ibu yang berjalan ke arah dapur.  “Ibu, habis belanja, ya?” tanyanya dengan nada malas.  “Iya. Nanti ibu mau bikin kolak untuk buka puasa. Farhan suka, ‘kan?” tanya ibu kemudian. Farhan menganggukkan kepalanya sambil membelalakkan matanya demi melihat apa saja yang telah dibeli ibu. “Ya, sudah...

Hampa di Tengah Kenangan

Halaman rumah yang penuh dengan mawar warna-warni itu tak lagi berwarna. Bahkan, hijau dedaunan pun sudah banyak berubah menjadi cokelat. Semua tampak seperti tanda kematian telah mengintip di setiap ujung daun itu. Pemandangan sedih itu terlihat jelas dari balik jendela kamar.  Hampir seminggu, Kayla tak menyirami tanaman di halaman seperti rutinitas biasanya. Hanya melati yang masih bertahan tumbuh dengan segar dan makin meranggas. Rumput liar pun mulai tumbuh di sana-sini.  Ini bukan musim hujan. Kayla tak bisa mengandalkan air hujan untuk menyirami tanamannya. Akan tetapi, ia tak juga tergerak untuk berdiri dan mengambil selang air untuk menyirami bunga-bunga itu. Seolah kakinya pun lemas tak berdaya seperti mawar-mawarnya yang tampak lemah lunglai menahan teriknya matahari siang itu.   ‘Untuk apa?’ pikirnya merasa percuma.’kalau memang sudah waktunya akan mati, ya matilah.’ desahnya putus asa. Ia berjalan keluar kamar dengan terseok. Bosan dan lelah dira...

Hujan di Masa Pandemi (6)

Akhir minggu itu, Aira mengkhususkan diri untuk masa penyembuhan. Obat yang terakhir dibeli ibu sangat membuat Aira mengantuk. Aira hanya bangun untuk salat, makan, minum obat dan ke toilet. Tidak ada aktivitas lain yang mengharuskannya terjaga. Hujan yang turun menciptakan suasana redup dan justru semakin membuat nyaman untuk istirahat. “Aira ke mana, bu?” tanya Tania, kakak Aira, pada ibu. “Tidur … ssstt jangan ganggu dulu.” kata ibu yang kemudian melihat Tania hendak masuk ke kamar Aira. “Biar dia istirahat dulu supaya batuknya sembuh.” “Kok lama ya sembuhnya?” Tania menampakkan kekhawatirannya. “Sebaiknya Aira di tes aja, bu.” Tania mencoba memberi saran kepada ibu. “Tes apa?” tanya ibu. “Ya tes covid-lah, bu. Di swab atau PCR, gitu!” tegas Tania yang membuat mata ibu mendelik. Ibu terdiam, tetapi menyimak saran Tania. “Enggak apa, bu. Setidaknya kita jadi tahu sedini mungkin.” Tania berusaha menenangkan Ibu. “Kalau Aira positif, berarti kita semua harus di tes juga, do...

Hujan di Masa Pandemi (5)

Hujan deras kembali turun membasahi bumi. Ibu menutup seluruh jendela agar udara di dalam rumah tidak semakin dingin. Dilihatnya Aira yang sedang mengerjakan pekerjaannya sembari menutupi dirinya dengan selimut di tempat tidur. Tempat sampah di samping tempat tidurnya sudah hampir penuh dengan tissue yang terkena lendir hidung dan dahaknya. Ibu menghela nafas dalam melihat putrinya yang belum juga sehat.  “Ra, nanti sore, ibu coba cari obat batuk lain, ya. Siapa tahu ada yang lebih ampuh,” ujar ibu. Aira mengangguk sambil menyusut hidungnya. “Kalau capek, istirahat, Ra. Jangan diforsir tenaganya.” Ibu berusaha menasihati Aira yang masih juga sibuk dengan pekerjaannya. “Ya, habis bagaimana dong? Kalau kerjaan hari ini enggak selesai, bisa numpuk besok-besoknya,” jelas Aira dengan suara sengau.   Sore hari, hujan sedikit mereda. Ibu bergegas pergi ke apotik. Di Apotik, ibu mencoba peruntungan untuk membeli antibiotik secara bebas. Namun percuma, petugas apotik t...